French paradoks,
itulah istilah populer di kalangan ahli gizi tentang kebiasaan orang
Perancis meminum red wine. Masyarakat di negara mode itu terkenal
sebagai pengonsumsi lemak tertinggi dibanding penduduk Eropa lain.
Namun, prevalensi terkena penyakit jantung justru paling rendah.
Fenomena itu diteliti dengan saksama sampai akhirnya muncul kesimpulan:
kebiasaan masyarakat Perancis duduk-duduk di kafé sambil minum red
wine menjadi penyebab lunturnya risiko serangan jantung, walaupun
konsumsi lemak berlimpah.
Red wine menjadi penyelamat lantaran mengandung polifenol.
Senyawa yang banyak terkandung di
aneka buah-buahan, seperti blueberry, blackberry, apel, melon, pir,
dan anggur itu memiliki aktivitas antioksidan yang berperan
melenturkan arteri jantung. Alkohol memang melenturkan arteri, tetap
tidak sebanyak kombinasi alkohol dan polifenol, seperti yang ada di
red wine.
French paradoks itu berlawanan arah
dengan cerita kulit manggis Garcinia mangostana. Red wine di Perancis
menjadi menu minum sehari-hari sejak zaman dahulu, sehingga
peminumnya merasakan dampaknya secara langsung. Sementara
manggis—di beberapa sentra penanaman—selama berada-abad dan sampai
sekarang, hanya dikenal sebagai buah segar. Kulit buahnya terbuang
percuma, padahal kulit itu mengandung polifenol seperti pada red
wine. Ia pun sanggup melenturkan arteri jantung.