“Nasib” kulit manggis nyaris serupa
ban sepeda bekas. Kita biasa membuka dan membuang kulit manggis
ketika hendak menikmati buahnya. Kini banyak pasien menggantungkan
harapan pada kulit queen of fruit itu. Pemicunya hasil riset yang
menyebut kandungan xanthone dalam kulit manggis sebagai
superantioksidan. Itu berarti kulit manggis potensial mengatasi
penyakit kanker seperti diteliti oleh Yukihiro Akao dari Institut
Bioteknologi Gifu, Jepang, yang dipublikasikan pada Maret 2008.
Temuan itu diikuti dengan riset-riset lanjutan yang mengungkap keandalan kulit Garcinia mangostana mengatasi sakit jantung, osteoporosis, hipertensi, stroke, hingga HIV/AIDS. Sayang pasokan kulit manggis tergantung pada musim buah. Seorang produsen olahan kulit manggis di Jakarta sampai mendatangkan bahan baku dari Bali. Oleh karena itu para peneliti tergerak meriset bagian lain seperti daun dan kulit batang pohon manggis.
Kulit manggis bagai mengikuti jejak langkah daun sirsak. Setahun lalu, apakah ada toko buah menjual daun sirsak? Popularitas daun tanaman Annona muricata itu mencorong sejalan dengan terungkapnya berbagai riset dan pengalaman pasien yang kondisinya dari sakit—terutama kanker—karena mengonsumsi daun sirsak.
Diawali oleh riset Jerry McLaughlin dari Purdue University yang mengungkap kandungan acetogenins pada daun sirsak, bukti ilmiah lain terus bermunculan. Banyak pemilik pohon melaporkan tanaman gundul karena banyak pasien kanker membutuhkan daunnya. Harga bibit pun naik berlipat. Berkat dukungan riset, daun sirsak—dan kemudian kulit manggis—yang semula terabaikan kini diandalkan. (Evy Syariefa)




0 comments:
Post a Comment